Hadits Kualitas

Pembagian Hadits Ditinjau Dari Aspek Kualitas

” Shoheh, Hasan dan Dlo’if “

1. Hadits dan Unsur-unsurnya: Matan, Sanad, dan Mukharrij.

Secara umum, hadits terdiri dari tiga elemen pokok yaitu matan, sanad, dan mukharrij. Di bawah ini akan penulis sajikan masing terminologi tersebut.

a. Matan

Secara etimologis, kata dasar matan berasal dari bahasa Arab (متن ج مُتون ومِتان) yang berarti sesuatu yang tampak jelas, menonjol; punggung jalan atau bagian tanah yang keras dan menonjol ke atas; matnul-ard berarti lapisan luar/kulit bumi; dan (مَتِيْن) yang berarti kuat/kokoh (قويّ /شديد). Sedangkan menurut peristilahan Ilmu Hadits, al-Badr bin Jama’ah memberikan batasan pengertian matan yakni المتن ما ينتهي إليه غاية السند من الكلام (matan adalah ’kalam’ yang menjadi tujuan akhir dari sanad) [1]. Definisi yang lain adalah: ألفاظ الحديث التي تتقوم بها المعاني (kata-kata/lafadh hadits yang bermakna)[2]. Matan hadits juga disebut dengan pembicraan atau materi berita yang diover oleh sanad yang terahir. Baik pembicaraan itu sabda Rasul s.a.w., sahabat ataupun tabi’in. Baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi atau perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi.

Selama sejarah kehaditsan, konsep ajaran yang dibawa oleh Rasul hampir semuanya dinarasikan/dibahasakan kembali oleh para sahabat dengan faqahah dan ’skill kebahasaan mereka masing-masing -tak terkecuali hadits qauli- yang selanjutnya diteruskan oleh generasi sesudahnya dengan kapasitas yang beragam dan sangat personal. Sehingga dapat dimaklumi jika lafadh yang merumuskan konsep ajaran tersebut banyak memiliki redaksi yang berbeda-beda –sebagaimana terdokumentasikan dalam berbagai kitab koleksi dan kadang lafadhnya tidak fasih (rakikul-lafdh). Seperti itulah riwayah bil-ma’na. Sehingga merupakan kesalahan yang fatal jika seseorang mengkulturkan lafadh matan dan menganggapnya sakral. Karena hadits sangatlah berbeda dengan al-Qur’an yang qath’iyyuts-tsubut sebagaimana telah dijanjikan oleh Allah dalam surat al-Hijr ayat 9 tentang keterjaminan otentisitas al-Qur’an baik dari segi teks maupun substansi doktrinalnya.

Tata letak matan dalam struktur utuh penyajian hadits senantiasa berada pada ujung terakhir setelah penyebutan sanad. Kebijakan peletakan itu menunjuk fungsi sanad sebagai pengantar data mengenai proses sejarah transfer informasi hadits dari nara sumbernya. Dengan kata lain, fungsi sanad merupakan media pertanggungjawaban ilmiah bagi asal-usul fakta kesejarahan teks hadits.

b. Sanad

Kata sanad menurut al-Badr bin Jamaah adalah memberitahu jalur menuju hadits. Karena sanad menurutnya diambil dari kata al-sannad yang berarti naik dari lembah gunung. Hal ini karena al-musnid menarik dan menelusuri hadits sampai kepada orang yang pertama kali mengucapkannya (Rasul). Atau diambil dari ucapan fulan sanad (berpegangan) sehingga sanad mempu-nyai arti memberitahu proses menuju matan. Hal itu dikarenakan orang yang hafal hadits menjadikan sanad sebagai acuan dalam sahih dan dla’ifnya sebuah hadits.

Dalam ilmu hadits terdapat beberapa kata yang merupakan derivasi dari kata sanad, di antaranya adalah:

i. Sanad yang artinya proses menuju matan;

ii. Musnad yang artnya hadits yang sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini sanad mempunyai tiga arti. Yang pertama adalah seperti yang telah tersebut. Yang kedua adalah buku-buku hadits yang sanadnya sampai kepada Nabi. Yang ketiga adalah sama dengan kata isnad di mana merupakan kata benda seperti Musnad al-shihab, Musnad al-Firdaus, Musnad Ahmad bin Hanbal, dan yang lain;

iii. Sinad yang artinya orang yang mewartakan hadits dari jalurnya baik ia paham atau tidak; dan

iv. Isnad yang artinya menarik hadits sampai ke penutur aslinya.

c. Mukharrij

Mukharrijul-hadits adalah orang yang menyebutkan perawi hadits. Istilah ini berbeda dengan al-muhdits/al-muhaddits yang memiliki keahlian tentang proses perjalanan hadits serta banyak mengetahui nama-nama perawi, matan-matan dengan jalur-jalur periwayatannya, dan kelemahan hadits. Dalam hal ini ia lebih tinggi apabila dibandingkan dengan al-musnid.

Siapapun dapat disebut sebagai mukharrij ketika ia menginformasikan sebuah hadits baik dalam bentuk lisan maupun tulisan dengan menyertakan sanadnya secara lengkap sebagai bukti yang dapat dipertanggung jawabkan tentang kesejarahan transmisi hadits. Yang pasti, mukharrij merupakan perawi terakhir (orang yang terakhir kali menginformasikan) dalam silsilah mata rantai sanad.

Setiap orang yang bergelut dalam bidang hadits dapat digolongkan menjadi beberapa tingkatan antara lain sebagai berikut:[3]

i. Al-Talib; adalah orang yang sedang belajar hadits.

ii. Al-Muhadditsun; adalah orang yang mendalami dan menganalisis hadits dari segi riwayah dan dirayah.

iii. Al-Hafidz; adalah orang yang hafal minimal 100.000 hadits.

iv. Al-Hujjah; adalah orang yang hafal minimal 300.000 hadits.

v. Al-hakim; adalah orang yang menguasai hal-hal yang berhubungan dengan hadits secara keseluruhan baik limu maupun musthalahul-hadits.

vi. Amirul-Mu’minin fi al-hadits; ini adalah tingkatan yang paling tinggi.

Menurut syeikh Fathuddin bin Sayyid al-Naas, al-muhaddits pada zaman sekarang adalah orang yang bergelut/sibuk mempelajari hadits baik riwayah maupun dirayah, mengkombinasikan perawinya dengan mempelajari para perawi yuang semasa dengan perawi lain sampai mendalam. Sehingga ia mampu mengetahui guru dan gurunya guru perawi sampai seterusnya.

2. Pengertian, Pembagian, dan Contoh Hadits Sahih.

a. Definisi

Menurut etimologi shohih berarti sehat kebalikan dari kata saqim yang berarti sakit.[4] Sedangkan menurut terminologi, hadits shohih ialah:

الحديث المسند الذي اتصل سنده بنقل العدل الضابط عن العدل الضابط حتى ينتهي الى رسول الله صلى الله عليه وسلم أو الى منتهاه من صحابي أو من دونه ولا يكون شاذا ولا معللا[5]

“Hadits yang sanadnya sambung, dikutip oleh orang yang adil lagi dlobith (cermat) dari orang yang sama, sampai berakhir kepada Rosulullah saw. atau kepada sahabat atau kepada tabi’in, bukan hadits yang syadz (kontroversial) dan terkena illat (yang menyebabkannya cacat dalam penerimaannya).”

Keterangan definisi

Dari definisi di atas dapat ditarik simpulan bahwa untuk memenuhi kriteria keshohihan hadits, terdapat lima poin syarat yang harus dipenuhi.

  • اتصال السند artinya setiap perowi benar-benar meriwayatkan hadits tersebut langsung dari orang (guru) diatasnya. Begitu seterusnya hingga akhir sanad.
  • عدالة الرواة artinya setiap perowi adalah seorang muslim yang sudah baligh dan berakal sehat yang tidak memliki sifat fasiq serta terjaga wibawanya.
  • ضبط الرواة artinya setiap perowi adalah seorang pemelihara hadits yang sempurna, baik menjaganya dengan hati (hafalan) maupun dengan tulisan.
  • عدم الشذوذ artinya hadits tersebut tidak berpredikat syadz yaitu hadits yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh orang yang lebih tsiqoh (terpercaya)
  • عدم العلة artinya hadits tersebut bukan hadits yang terkena illat. Yaitu sifat samar yang mengakibatkan hadits tersebut cacat dalam penerimaanya, kendati secara lahiriyah hadits tersebut terbebas dari illat.

Contoh : hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, berikut kutipannya[6] :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ(صحيح البخاري)

b. Pembagian Hadits Shohih

Hadits shohih terbagi menjadi dua macam, yaitu shohih lidzatihi dan shohih lighoirihi.

  • Shohih lidzatihi yaitu hadits yang telah memenuhi syarat-syarat keshohihan seperti apa yang telah dijelaskan di atas.
  • Shohih lighoirihi, yaitu hadits yang tidak memenuhi secara sempurna syarat-syarat keshohihan hadits, namun didukung oleh riwayat lain yang sama atau lebih kuat. Oleh karena itu ia disebut shohih lighoirihi (hadits shohih karena faktor lain).

c. Hukum Hadits Shohih

Wajib diterima dan diamalkan berdasarkan ijma’ ulama hadits dan ulama ushul serta para ahli fiqh. Ia merupakan hujjah syar’iyyah yang tidak boleh ditinggalkan oleh ummat Islam.

3. Pengertian, Pembagian, dan Contoh Hadits Hasan.

a. Definisi

Menurut bahasa, hasan berarti bagus, indah.

Menurut istilah, hadits hasan ialah:

ما اتصل سنده بنقل عدل خفيف الضبط وسلم من الشذوذ والعلة

“Hadits yang sanadnya bersambung , oleh penukil yang adil namun tidak terlalu kuat ingatannya, dan terhindar dari syadz (kontroversi) serta illat.”

Yang perlu diperhatikan dari pengertian di atas adalah perowi pada hadits hasan tidak sekuat atau tingkatannya masih di bawah perowi pada hadits shohih.

Contoh : hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Turmudzi. Berikut kutipannya :[7]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِيُّ عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَال سَمِعْتُ أَبِي بِحَضْرَةِ الْعَدُوِّ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ رَثُّ الْهَيْئَةِ أَأَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُهُ قَالَ نَعَمْ فَرَجَعَ إِلَى أَصْحَابِهِ فَقَالَ أَقْرَأُ عَلَيْكُمْ السَّلَامَ وَكَسَرَ جَفْنَ سَيْفِهِ فَضَرَبَ بِهِ حَتَّى قُتِلَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِيِّ وَأَبُو عِمْرَانَ الْجَوْنِيُّ اسْمُهُ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ حَبِيبٍ وَأَبُو بَكْرِ ابْنُ أَبِي مُوسَى قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ هُوَ اسْمُهُ (سنن الترمذي)

b. Pembagian Hadits Hasan

Seperti halnya hadits shohih, hadits hasan juga terbagi menjadi dua, yaitu hasan lidzatihi dan hasan lighoirihi.

¯ Hadits hasan lidzatihi yaitu hadits yang sesuai dengan pengertian hadits hasan di atas. Maka ketika diucapkan ”hadits hasan”, itu masudnya hasan lidzatihi, begitu juga hadits shohih

¯ Hadits hasan lighoirihi yaitu hadits dlo’if yang diriwayatkan dari beberapa jalan periwayatan, dan sebab ke-dlo’if-annya bukan karena rowi yang fasiq maupun pembohong.

c. Hukum Hadits Hasan

Di dalam kehujjahannya ia seperti hadits shohih, meskipun kekuatannya dibawah hadits shohih. Oleh karena itu seluruh ulama fiqh, dan sebagian besar ulama hadits dan ulama ushul menjadikannya sebagai hujjah serta mengamalkannya.

4. Pengertian, Pembagian, dan Contoh Hadist Dha’if.

a. Definisi

Menurut bahasa dlo’if berarti ”lemah” lawan dari kata “kuat”. Menurut istilah, hadits dlo’if adalah hadits yang tidak sampai memenuhi kriteria hadits shohih maupun hasan.

b. Macam-Macam Hadits Dlo’if

Hadits dlo’if terbagi menjadi banyak sekali, yang tidak mungkin dalam makalah kecil ini dapat diuraikan semuanya. Tapi ulama-ulama hadits telah membagi secara global, bahwa penyebab lemahnya hadits tak akan lepas dari dua sebab umum, yaitu dlo’if karena tidak adanya persambungan sanad, dan dlo’if karena sebab di luar tidak adanya persanbungan sanad.

  • Hadits-Hadits Dloi’f Karena Tidak Adanya Persambungan Sanad

Ø Hadits mursal : hadits yang oleh tabi’in (baik kecil maupun dewasa) langsung disandarkan kepada Rosulullah saw.

Ø Hadits munqothi’ : hadits yang sanadnya tidak sambung, dengan digugurkannya satu rowi atau lebih. Hadits ini lebih umum, sehingga mencakup hadits mursal, mu’dlol dan mu’allaq.

Ø Hadits mu’allaq : hadits yang digugurkan dua rowi atau lebih dari permulaan sanadnya secara berturut-turut.

Ø Hadits mu’dlol : hadits yang digugurkan dua rowi atau lebih secara berturut-turut ditingkat manapun.

Ø Hadits mudallas : hadits yang disamarkan kecacatan sanadnya, sekan-akan tampak bagus. Hadits ini terbagi menjadi dua pokok. Pertama tadlisul isnad : hadits yang disampaikan oleh seorang perawi dengan indikator ia mendengar sendiri dari orang yang sezaman dengannya atau pernah bertemu, namun sebenarnya ia tidak mendengarkan sendiri hadits tersebut. Kedua, tadlis al-syuyukh: hadits yang diriwayatkan dari seorang guru, namun perowi menyamarkannya dengan menyebut, memberi kunyah, menjuluki, atau menyifati gurunya itu dengan sesuatu yang tidak diketahui (tidak sesuai dengan keyataan).

Ø Hadits mu’allal : hadits yang terungkap mengandung cacat yang menodai keshohihannya, meskipun sepintas tampak bebas dari cacat.

  • Hadits-Hadits Dlo’if Karena Sebab Di Luar Tidak Adanya Persambungan Sanad

¯ al-Mudlo’af : hadits yang tidak terdapat tanda-tanda dlo’if akan tetapi sebagian ahli hadits melemahkannya baik terhadap sanad maupun matannya dan itulah yang lebih kuat, atau tidak dimungkinkan pentarjihan antara yang kuat dan yang lemah.

¯ Al-Mudltharrab : hadits yang diriwayatkan dari pihak-pihak yang saling kontrofersi tanpa dimungkinkan pentarjihan salah satunya, baik rawi dari masing-masing pihak cuma satu atau lebih.

¯ Al-Maqlub : hadits yang terbalik lafad matannya, atau nama maupun nasab rawi pada susunan sanadnya.

¯ As-syadz : hadist yang diriwatkan oleh rawi yang memang terpercaya akan tetapi ia menyalahi rawi-rawi lain yang lebih tinggi derajatnya.

¯ al-Munkar : hadits yang diriwatkan oleh rawi yang lemah bertentangan dengan rawi-rawi terpercaya.

¯ Al-mathruq wa Al-mathruh : hadits yang diriwatkan oleh orang yang dianggap mendustakan hadist nabi, atau pembohong dalam ucapannya, ataupun oleh orang yang menampakan kefasikan dengan perbuatan atau perkataan, atau banyak lupa, atau banyak menghayal.

c. Hukum Pengamalannya

Terdapat perbedaan ulama mengenai pengamalan hadits dlo’if. Ulama jumhur menganjurkan mengamalkannya jika berkenaan dengan fadlilah-fadlilah ibadah tetapi dengan beberapa syarat yang diterangkan oleh Al-Hafidz Ibn Hajr dalam kitab Tadrib Al-Rawi.

5. Cara Mengukur Kesahihan Hadits

Apabila kita mendapati hadits yang kita teliti mutawatir maka, langsung dapat dihukumi sahih. Dan tingkat kesahihannya adalah yang paling tinggi. Hal ini karena tingkat validitas informasi yang didukung banyak saksi –meski tanpa memandang status informan- tentu lebih tinggi daripada informasi yang hanya memiliki saksi satu atau dua orang saja –meski integritas dan kredibilitasnya diakui.

Jika suatu hadits tidak mutawatir, maka tata caranya sebagai berikut: untuk mengetahui suatu hadits (selain mutawatir) apakah sahih atau tidak, kita bisa melihat dari beberapa syarat yang telah tercantum dalam sub bab yang menerangkan hadits shahih. Ada lima syarat kesahihan hadits, yaitu: seorang perawi harus dlabith dan ‘adil, sanad harus bersambung, dan hadits tersebut terbebas dari syudzudz dan ‘illat. Apabila hadits telah memenuhi syarat kesahihan hadits, maka dapat segera diputuskan bahwa hadits tersebut sahih. Namun apabila ada salah satu syarat yang tidak terpenuhi, maka secara otomatis derajat hadits tersebut turun dengan sendirinya. Semisal kita meneliti sebuah hadits, kemudian terbukti bahwa salah satu perawi hadits tersebut tingkat kedlabitannya kurang sempurna, dalam artian berada pada tingkat kedua, maka dengan sendirinya hadits tersebut masuk dalam katagori hadits hasan/sahih li ghairihi –jika mempunyai riwayat pendukung. Dan jika hadits yang telah diteliti tidak ditemukan suatu kelemahan pun, dan tingkat para perawi juga menempati posisi yang pertama maka hadits tersebut dikatakan hadits sahih li dzatihi.

Sedangkan mengenai hadits hasan, kita bisa merujuk pada ketentuan-ketentuan yang termuat dalam pengertian dan kriterianya. Apabila hadits tersebut mempunyai beberapa jalur periwayatan, maka ia akan naik derajat menjadi hadits sahih li ghairihi. Dengan kata lain, dapat disimpulkan apabila ada hadits hasan akan tetapi hadits itu tidak gharib/diriwayatkan oleh beberapa jalur maka dapat dihukumi sebagai hadits sahih li ghairihi.

6. Peran al-Tabi’ / al-Muntabi’ Dalam Analisis Kualitas Sanad

Sebelum menginjak pada pada fungsi tabi’/mutabi’’ terhadap kualitas sebuah hadits, maka akan sangat membantu kiranya penulis jelaskan terlebih dahulu mengenai terminologinya.

Mutabi’’ ialah hadits yang mengikuti periwayatan perawi lain sejak pada gurunya yang terdekat atau guru dari guru yang terdekat itu. Orang yang mengikuti periwayatan seorang guru atau guru dari guru perawi lain disebut mutabi’’.[8] Perlu diketahui bahwa dalam mutaba’ah disyaratkan adanya sumber pengambilan yang sama antara mutabi’’ dan mutaba’, yakni bersumber dari sahabat yang sama. Apabila sumbernya berasal dari sahabat lain maka hadits itu disebut dengan hadits syahid.

Nabi SAW

tabi’in   -    tabi’in

atba’tabiin    –      atb’tabiin

A B                   C

Mutabi’’ ada dua macam; mutabi’ tam dan mutabi’ qashir. Mutabi’tam adalah hadits yang mutaba’ah (tindakan mengikuti periwayatan)nya pada perawi yang sama. Sedangkan mutabi’ qasir adalah hadits yang mutaba’ahnya pada guru perawi atau guru dari guru perawi tersebut. Akan lebih jelas jika kita melihat pada bagan di samping. Dilihat dari sudut pandang A, maka B adalah mutabi’ tam terhadap A. Sedangkan C adalah mutabi’ qashir terhadap A, begitu juga terhadap B.

Posisi mutabi’’ dalam sebuah hadits sangat berpengaruh pada kualitas hadits itu sendiri. Karena ketika ada sebuah hadits yang dinilai dari segi sanad memiliki kekurangan, maka akan menyebabkan hadits tersebut tidak bisa mencapai derajat shahih atau hasan. Akan tetapi ketika ditemukan hadits yang sama dari jalur lain, maka posisi hadits yang pertama bisa kuat dan bisa naik menjadi hadits sahih li ghairihi (apabila pertamanya ia hasan li dzatihi) berkat dukungan dari sanad lain tersebut. Hal ini karena substansi matannya dijustifikasi oleh faktor eksternal. Dan kekurangan pada salah satu perawi –yang bisa menimbulkan kecurigaan semisal hafalannya tidak begitu kuat sehingga ditakutkan haditsnya merupakan buatan sendiri atau tidak sesuai dengan apa yang diterima pertama kali- dapat dihilangkan dengan adanya bukti berupa hadits yang sama dan diriwayatkan dengan jalur yang berbeda.

Contoh kasus adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Syafi’i dari Malik dari ’Abdullah bin Umar dari Nabi:

“الشهر تسع وعشرون، فلا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه. فإن غمّ عليكم فأكملوا العدّة ثلاثين يومًا”.

Hadits ini dinilai gharib karena diduga hanya diriwayatkan oleh Syafi’i dari Malik. Akan tetapi ditemukan hadits lain yang sama yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Maslamah al-Qa’Nabi dengan sanad yang sama. Sehingga seandainya hadits Imam Syafi’i tersebut hasan, maka dapat anaik tingkatan menjadi sahih li ghairihi. Dan kalaupun hadits tersebut dla’if, maka dapat terangkat menjadi hasan li ghairihi


[1] Muhammad Hasbi Ash shiddiqi. 1998. Sejarah & pengantar Ilmu Hadits. Semarang. P.T. Pustaka Rizqi Putra

[2] Ahmad Muhammad Ali Daud, ‘Ulumul-Qur’an wal-Hadits (____: Darun-Nasyir, 1984),

[3]Ahmad Umar Hasyim, Qawaid Usul al-Hadits, Tt, Darul-Fikr.

[4] Al-Munjid Fi Al-Lughah wa Al-A’lam, 1986, (Beirut: Dar Al-Fikr), cet XXVIII.

[5] Subhi Shalih, 1997, Ulum Al-Hadits Wa Mustholahuhu, (Beirut: Dar Al-Ilm Li Al-Malayin)cet. XXI. Mahmud Tahhan, 1985, Taysir Musthalah Al-Hadits, (Surabaya: al-Hidayah), cet.VIII,

[6] Al-Imam Al-Bukhori, 1981, Shohih Al-Bukhori, (Beirut; Dar El-Fikr) jilid 1, juz I.

[7] Ibn Musa Muhammad bin Isa bin Surah, Sunan Al-Tirmidzi, (Kairo : Dar Al-Hadits), cet.1, juz 3.

[8] Fathur Rahman. Mustalahu Al-Hadist. 1970, Bandung: PT Ma’arif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: